Hmm, sudah lama tidak menulis apapun di blog yang sepi ini. Mungkin, waktu
senggang ini sesekali diisi dengan menulis di blog, pasti ada saja
keuntungan dari kegiatan ini (yang saya belum tahu hingga sekarang, tetapi
masih sangat yakin) meskipun mungkin hanya sedikit, *selain karena memang saya
suka mengetik apapun dan dimanapun.
Saat ini, 4 Maret 2017, pukul 17.00 WIB, saya adalah seorang karyawan di
salah satu perusahaan swasta di Kota Palembang (yang dirahasiakan nama dan
jenisnya demi kelangsungan kerja saya). Saya cukup bahagia kerja di perusahaan
ini. Ini bukan topik utama tulisan ini, tetapi lebih ke pengalaman saya sewaktu
kuliah di Universitas Bengkulu, salah satu universitas negeri yang ada di
Indonesia.
Saya memulai kuliah pada Juli 2011, dengan perasaan bangga menjadi
mahasiswa dan angan-angan menjadi seseorang yang sukses dimasa depan. Jurusan
Ilmu Kesejahteraan Sosial, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Bengkulu, menerima saya untuk menjadi salah seorang warga kampus
disana, bahkan saya tidak memerlukan tes SMPTN/SBMPTN atau apapun itu. karena
mereka dan SMA tempat saya berasal “bersekongkol”(dimaknai dengan positif dan
penulis tidak bertanggung jawab untuk yang memaknai dengan negatif) untuk
meloloskan saya lewat jalur Undangan. Dan akhirnya, pada Agustus 2016, secara
resmi saya menyelesaikan proses perkuliahan, yang hingga saat ini masih saya
ragukan kalau saya merindukan keseharian sebagai mahasiswa.
Sebelum saya membahas lebih lanjut tentang perasaan setelah lulus kuliah,
tentu akan lebih baik jika dimulai dengan bagaimana sudut pandang tentang kuliah
dari beberapa orang. Bahasan pada blog ini, hanya kegiatan disela-sela waktu
senggang saja, jadi saya SANGAT tidak memperdulikan bila ada orang yang melihat
dari segi keilmuan/tata bahasa/atau apapun itu, yang mengharuskan untuk
menggunakan format dan referensi yang resmi. Saya hanya mengambil sudut pandang
beberapa orang di dunia maya mengenai pendapat mereka tentang kuliah. Meskipun
demikian, jika ada referensi yang resmi yang menurut saya sesuai, tentu akan
dimasukkan juga. Jadi, bahasan pada blog ini, akan menjadi subjektif atau hanya
menurut pada kemampuan terbatas saya dalam menganalisa permasalahan dan mungkin tidak
akan se-hebat pembahasan dosen pengajar saya selama kegiatan perkuliahan yang
penuh akan ilmu dan manfaat serta diiringi oleh referensi-referensi yang sangat
bagus.
Baiklah, tidak usah berlama-lama. Dari referensi yang saya baca di dunia
maya dengan bantuan *mesin pencari yang terkenal itu*, saya dapatkan dua
kesimpulan, yakni, 1, Kuliah sangat bermanfaat bagi orang yang ingin mengejar
cita-cita, karena dalam proses perkuliahan, seseorang diajarkan untuk menjadi
pribadi yang handal dan profesional dalam bidang-bidang tertentu yang nantinya
akan menjadi orang yang bekerja sesuai ataupun tidak sesuai dengan
bidang keilmuan yang diambilnya. 2. Kuliah tidak bermanfaat, karena jika ingin
sukses seseorang hanya harus melakukan kegiatan wirausaha sejak dini, bahkan
saat/setelah SMA/SMK atau yang sederajat, seseorang harus memulai untuk
melakukan kegiatan usaha tertentu untuk melatih kemampuannya dalam kegiatan
usaha tersebut agar menjadikan usaha tersebut menguntungkan bagi dirinya di
masa depan. Karena bahasan utama saya bukan tentang sudut pandang beberapa
orang mengenai kuliah dan saya tidak ingin hal tersebut mendominasi isi
tulisan ini, dapat saya simpulkan bahwa ada dua sudut pandang yang
berlawanan dari sebagian orang mengenai kuliah, ada orang yang pro dan kontra
mengenai kuliah.
Saya tidak akan mengambil pendapat orang lain lagi, karena setelah paragraf
ini, saya akan menceritakan proses kuliah dari sudut pandang saya sendiri.
Sebagai seseorang yang telah menyelesaikan proses perkuliahan, meskipun
hanya Strata 1, saya tentu termasuk kedalam golongan orang yang pro terhadap
kegiatan perkuliahan. Hal ini membuat saya tidak membahas lebih lanjut mengenai
tanggapan kontra mengenai kuliah, selain karena saya termasuk yang pro, saya
juga malas mencari referensi untuk nantinya menjadi pembanding untuk poin pro
kuliah di tulisan ini (super subjektif atau apapun itu). Kembali ke pro kuliah,
saya sangat menyukai kuliah baik dari tulisan “kuliah” atau hal apapun yang
terkait kuliah (yang saya tahu saat itu). Bahkan jujur saja, sejak SMP saya
telah menganggap bahwa kuliah akan membuat saya terlihat hebat di mata
orang-orang yang saya kenal dan yang mau kenal dengan saya. Dengan
bangganya saya mengatakan bahwa saya sangat bersedia untuk melanjutkan
pendidikan saya ke perguruan tinggi kepada orang tua, saat ditanya mengenai
pendidikan saya (tentu saja pertanyaan tersebut adalah "nak lanjut kuliah
dide kaba ni?" #Bahasa Lahat,Sumatera Selatan, yang artinya dalam bahasa
Indonesia yang baku adalah “Kamu mau lanjut kuliah atau tidak?”). Perasaan saat
masih dalam kegembiraan setelah dinyatakan lulus SMA membuat saya hanya melihat
kuliah (yang memang telah saya sukai sebelumnya) memang merupakan kegiatan
wajib yang harus saya lakukan setelah SMA.
Beberapa hal saat SMA (berprestasi dalam kelas, hmmmm, dan nilai
yang selalu bagus di raport dan saya tidak harus menyebutkan ranking saya
disini #Thuglife *<BOHONG*) yang saya tidak mengetahuinya hingga saat
ini, membuat saya termasuk kedalam beberapa siswa yang mendapat kesempatan untuk masuk perguruan tinggi negeri lebih
mudah dibanding siswa lain (Jalur Undangan untuk masuk Universitas Negeri).
Waktu itu tiap kelas diambil hanya beberapa orang saja yang termasuk dalam
ranking 7 besar saja, seingat saya, Dengan perasaan sangat bersyukur (dan juga
rendah diri, *untuk bagian ini saya lupa), jalur tersebut saya ambil dan ikuti
dengan yakin. Faktanya saat itu, ada beberapa teman sekolah yang mengikuti tes
tertulis di Universitas yang menerima saya tersebut, tetapi tidak lulus. Jadi
saya cukup senang menerimanya. Kemudian, saya sempat galau bingung, karena saat memilih jurusan dan
universitas, syarat yang diperlukan oleh jurusan yang saya minati sangat tinggi
dan peminatnya dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Saat itu, saya sangat
berminat untuk mengambil jurusan Teknik Informatika, karena saya sangat
menggemari segala hal yang berhubungan dengan komputer (meskipun kebanyakan
bermain game). Sialnya, jurusan tersebut adalah jurusan yang paling tinggi
peminatnya dari tahun ke tahun di universitas negeri. Oh iya, bukan hanya
mengenai jurusan atau bidang perkuliahan yang harusnya saya cantumkan disini,
tetapi Universitas-nya juga harus saya muat. Tanpa mengurangi rasa hormat saya
terhadap kampus tempat saya menyelesaikan perkuliahan, Universitas Bengkulu,
sebenarnya saya amat sangat (sudah menggambarkan perasaan saya dengan
"amat dan sangat") menyukai Universitas Sriwijaya atau biasa disebut
dengan bangganya oleh adik saya yang berkuliah disana dengan UNSRI!!. Saat itu,
saya merasa bila kuliah disana, saya akan disegani dan lebih mudah untuk
mencari pekerjaan, khususnya di wilayah Sumatera Selatan. Banyak juga politisi
terkenal saat ini, merupakan alumnus Universitas Sriwijaya yang beralamat di
Kabupaten Indralaya dan Kota Palembang ini, yang tentunya tidak akan disebutkan
namanya disini. Tetapi harapan tersebut harus kandas, bahkan kalimat yang lebih
tepat untuk menggambarkannya adalah menyerah sebelum berperang. Ibu wali kelas
saya, Ibu R***** S****** sangat menyarankan saya untuk tidak mengambil Unsri
sebagai pilihan utama untuk Universitas yang ingin dituju pada bagian tujuan
jalur undangan.
Awalnya saran dari Ibu guru kebanggaan saya tersebut tidak saya
indahkan, dan tetap bersikeras untuk tetap pada pendirian saya (memilih Unsri),
tetapi setelah melihat rekam jejak kakak tingkat yang sempat
saya tanya beberapa orang, dengan nilai keseluruhan yang kurang lebih sama
dengan saya saat SMA (yang super seadanya), rasanya tidak akan dilirik dan
langsung ditolak oleh Universitas tersebut. Berangkat dari keyakinan tersebut, saya akhirnya memilih saran yang
diberikan oleh Ibu RS, yakni memilih alternatif kedua sebagai pilihan pertama,
dan pilihan utama sebagai universitas pilihan kedua (nah loh, kedua,
utama dan kedua, maksudnya apa ini?#?@!?#?, Bodoh amat).
Universitas Bengkulu-pun saya jadikan sebagai pilihan utama dengan urutan
jurusan 1. Ilmu Komunikasi, 2. Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris, dan 3, Ilmu
Kesejahteraan Sosial, dan Universitas Sriwijaya saya jadikan sebagai pilihan
kedua.
Setelah kejadian
pemilihan tempat mengasah ilmu masa depan tersebut selesai, akhirnya saya memang
dinyatakan lulus di Universitas Bengkulu dengan jurusan terakhir dari yang saya
pilih, Meskipun sempat bingung karena kurangnya pemahaman dan informasi
mengenai jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, tetapi saya memantapkan niat untuk
mengambil pilihan (yang saya kira hanya datang sekali seumur hidup) tersebut. Orang tua saya yang mengetahui bahwa saya hanya ingin kuliah di universitas
dambaan awal saya tadi, sempat heran melihat gelagat dan perilaku saya yang
tidak terlihat kecewa karena tidak diterima di UDA (Univ. Dambaan Awal). Saya
tidak memperdulikan hal tersebut, karena saya merasa sangat bersyukur dan tidak
ingin mencoba untuk tes di UDA, padahal ada teman sekolah yang awalnya tidak
lulus, tetapi pada tahun berikutnya mencoba bisa lulus. Setelahnya, dengan
perasaan girang dan sangat senang, saya mencari informasi untuk lebih cepat
menyelesaikan segala proses administrasi untuk kelanjutan perkuliahan
tersebut.
Baiklah, sebelum tulisan ini beralih sepenuhnya menjadi curhat panjang, saya
akan mencoba untuk membuat tulisan ini tidak didominasi oleh hal detail yang
mungkin tidak diperlukan disini dan hanya menggunakan kalimat dan kata yang
baku (menurut kemampuan saya yang seadanya) yang diperlukan.
Setelah melewati proses administrasi (dari urusan di SMA hingga di Rektorat
Universitas Bengkulu, selanjutnya disebut Unib), saya akhirnya bisa memulai
perkuliahan di bulan Juli 2011. Yang membuat saya selalu teringat bulan
tersebut, karena sehari sebelum keberangkatan saya ke Bengkulu, saya sempat
menyaksikan tim sepakbola kebanggaan saya Barcelona merebut gelar Liga
Champions dari Manchester United, gelar tersebut merupakan torehan kuping lebar
ke empat kalinya sejak era Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo dimulai (baiklah,
hal ini memang tidak diperlukan karena tidak ada hubungannya sama sekali dengan
tulisan ini, dan klub kebanggaan saya ini, merupakan klub favorit untuk dihina
di status aplikasi Messenger oleh beberapa teman saya yang merupakan fans klub
rival ataupun klub lain hingga saat ini serta saya menyebutkan pemain klub
rival tersebut karena saya memang menyukai kerja keras dan capaian beliau di
lapangan hijau).
Mulai titik ini, saya telah resmi menyandang gelar mahasiswa di Jurusan
Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Bengkulu. Saya memulai keseharian sebagai mahasiswa di kampus hijau ini, dengan
melakukan kegiatan orientasi mahasiswa, yang biasa dikenal dengan ospek. Pada
awalnya kegiatan ini ingin saya hindari karena saya beranggapan bahwa ospek
akan sangat membuat saya malu, takut apabila berbuat salah dan tidak sesuai
dengan keinginan kakak tingkat yang menjadi panitia ospek. Dan pendapat saya
tersebut didukung oleh kenyataan, bahwa sebelumnya, dibeberapa kampus yang ada
di Indonesia, kegiatan ospek merupakan kegiatan ekstrim yang bisa melukai
secara fisik hingga ke mental mahasiswa, bahkan ada beberapa kampus yang telah
membunuh mahasiswa dengan kegiatan ini (silahkan cari di mesin pencari yang terkenal itu dengan keyword kematian akibat ospek). Selain itu, saya
tidak pernah mengikuti kegiatan ospek saat di SMP dan SMA, khusus di SMA
setidaknya saya hanya mengikuti kegiatan awal yang tidak ada hubungannya dengan
hukum-menghukum. Tetapi pada akhirnya, saya tetap mengikuti kegiatan ini dan
memang saya beberapa kali membuat kesalahan dan akhirnya harus menanggung malu
karena dihukum dan disaksikan oleh banyak mahasiswa lainnya. Setelah mengikuti
kegiatan tersebut, anggapan negatif saya mengenai ospek berubah seratus delapan
puluh derajat. Saya justru mensyukuri telah mengikuti kegiatan tersebut, karena
banyak hal positif yang saya dapatkan, antara lain, lebih banyak mengenal teman
baru, kakak tingkat dan program kampus dari tingkat kampus, fakultas hingga
mengerucut ke jurusan.
Baiklah, saya telah melupakan niatan saya untuk lebih mengurangi hal detail
yang kurang bermanfaat di tulisan ini, seperti yang telah saya tuliskan
sebelumnya. Intinya, keseharian sebagai mahasiswa, saya mulai dengan melakukan
kegiatan ospek, kemudian mulai masuk ke kegiatan perkuliahan yang sebenarnya.
Saat perkuliahan, dari Juli 2011 hingga Agustus 2016 saya mengalami
perubahan pola perilaku, pola pertemanan hingga ke pola makan (yang baru saya
sadari setelah wisuda). Saya tentu tidak akan menjelaskan secara detail
mengenai perubahan pola perilaku dan pertemanan, karena akan menghabiskan waktu
berminggu-minggu untuk saya menuliskan semuanya. Akan tetapi, saya akan sedikit
menyoroti perubahan pola makan. Secara fisik, dengan muka yang low end (bawah
ke lebih bawah lagi, menurut penilaian beberapa orang yang saya lakukan
tentunya dengan rahasia), badan yang tergolong pendek untuk ukuran tinggi
lelaki pada umumnya, kurang lebih 163 cm dan berat 59 kg (data awal tes
kesehatan di Unib tahun 2011), saya terbiasa makan teratur 3 x sehari dari
kecil hingga sebelum kuliah. Tinggal dirumah dari mulai meluncur dari kandungan
Ibu tercinta hingga SMA tentunya akan membuat pola makan saya sangat teratur,
dan berbeda dengan teman saya yang menyewa atau bahasa kerennya ngekos, yang
tentunya pola makan disesuaikan dengan tingkat kerajinan masing-masing, kalau
rajin masak bisa seimbang tapi kalau malas bisa berantakan (didukung oleh pengalaman
saya sendiri).
Kembali ke masa awal perkuliahan, pada awal kuliah, karena
menjadi anak kos (pengalaman baru) saya memang masih menyesuaikan pola makan, 3
x sehari, kemudian hanya setelah beberapa bulan saja (masih semester 1) berubah
menjadi 5 x sehari, dan berkurang menjadi 1-2 x sehari. Keuangan bukan menjadi
persoalan perubahan tersebut, karena orang tua saya selalu memberikan *yang
terbaik* (selalu memastikan saya tidak kekurangan suatu apapun dan saya sangat
bersyukur karenanya). Saya baru menyadari hingga kini, bahwa yang membuat pola
makan hingga pola hidup tidak teratur, justru karena kebiasaan malas saya. Rasa
malas karena selalu *menerima bersih* apapun yang ada dirumah membuat saya
menjadi orang dengan perilaku konsumtif yang selalu menginginkan hal-hal yang
instan. Hal ini, membuat saya menjadi boros dalam keseharian sebagai anak kos
dan mahasiswa, saya mengeluarkan lebih banyak biaya untuk keseharian saya, yang
akhirnya justru menjadikan saya makan hanya 1 x sehari. Bahkan parahnya, rasa
malas mengatur keuangan tersebut, berimbas ke kegiatan perkuliahan. Jujur saja,
saya termasuk orang yang rajin menyelesaikan tugas dari SD hingga SMA.
Saat
perkuliahan, saya mulai malas untuk mengerjakan tugas kuliah, bahkan ada
beberapa tugas yang tidak saya kerjakan. Anehnya, saya tidak menyadari hal
tersebut. Kebiasan buruk saya tersebut, baru berubah sejak semester 5-6.
Perubahan tersebut, tidak datang sendiri. Setelah melihat beberapa nilai saya yang
tidak mencapai ketuntasan, saya harus mengulang beberapa mata kuliah di
semester depan yang tentunya harus membuat kesempatan saya untuk menyelesaikan
kuliah tepat waktu harus pupus. Dari periode tersebut, saya mulai menyadari
bahwa rasa malas hanya akan membuat saya menjadi orang yang tidak bisa mengatur
apapun dalam hidup dan selalu tertinggal dari orang yang lebih rajin. Meskipun
sesekali masih malas, tetapi pada akhirnya, keuangan dan tugas kuliah menjadi
lebih baik saat itu.
Di setiap universitas (yang saya ketahui) selalu ada kegiatan Kuliah Kerja
Nyata, yang ngetrennya dengan istilah KAKA EN. Mungkin nama kegiatan tersebut
ada yang berbeda pada tiap-tiap kampus, tetapi pada umumnya, nama yang lazim
digunakan seperti yang saya sebutkan. Meskipun pada awalnya, saya sangat takut
dengan kegiatan tersebut, tetapi setelah dijalani, justru membuat saya ingin
terus melakukannya. Secara umum, kegiatan KKN tersebut, mengharuskan satu
kelompok mahasiswa untuk tinggal di tempat yang telah ditetapkan oleh
universitas, dalam hal ini, saya dan teman satu kelompok mendapat tempat di
Desa Suka Negara, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara. Saya dan
teman lain membutuhkan waktu hingga 4 jam untuk tiba ditempat tersebut dengan
menggunakan motor, dan jika ingin naik mobil hanya sekitar 3 jam saja. Saya
tidak akan menceritakan detail mengenai apa yang telah saya dan teman satu
kelompok lakukan secara detail saat menjalani kegiatan ini karena perlu banyak
waktu dan banyak lembar untuk menceritakan semuanya. Intinya, saat menjalani
kegiatan KKN, saya untuk pertama kalinya, menaklukan ketakutan saya saat berada
di tempat terkecil sekalipun. Sebelumnya, saya merupakan orang yang penakut,
bahkan tidak berani pergi ke tempat yang terpencil untuk bersosialisasi
sekalipun, tetapi dengan adanya KKN ini, saya telah menyadari banyak hal
menarik yang telah saya tinggalkan saat berada di tempat baru dan
bersosialisasi dengan orang baru. Secara internal, saya juga harus beradaptasi
dan bekerja sama dengan teman satu kelompok, yang jumlahnya 8 orang,
masing-masing 4 orang laki-laki (termasuk saya) dan perempuan. Intinya, selama
proses kegiatan KKN saya merasa bahwa saya bersama dengan orang-orang yang baik
dan mau berjuang bersama untuk menyelesaikan misi saat kegiatan ini
berlangsung. Meskipun demikian, saya tidak tahu bagaimana, perasaan mereka
satu-persatu karena bagaimanapun tiap individu punya perspektif sendiri.
Hal wajib yang harus saya masukkan dalam poin KKN ini tentu saja warga desa
Suka Negara. Saya sangat memaklumi jika ada warga desa yang keberatan dengan
adanya kelompok KKN yang “numpang” mencari nilai kuliah didesa mereka, karena
anggapan bahwa anak KKN tidak ada gunanya dan hanya membuat gaduh saja atau
yang lainnya. Mereka berhak berpikiran seperti itu, tidak salah memang, selain
untuk perlindungan diri dari hal-hal yang tidak mereka inginkan. Tetapi, dengan
mengijinkan adanya kelompok KKN, tentu warga desa setidaknya mendapatkan
beberapa keuntungan, meskipun terkadang kecil. Keuntungan yang saya maksud,
antara lain, warung-warung yang ada di desa bisa menjadi untung dengan anak KKN
yang membeli di warung tersebut, atau anak-anak warga desa bisa belajar bersama
dengan anak KKN yang tentunya menjadi agenda wajib tiap kelompok KKN. Beberapa
hal tersebut, didapatkan dari kelompok yang paling pasif kegiatannya, bisa
dibayangkan jika kelompok KKN tersebut aktif, tentu lebih banyak manfaat lain
lagi, bagi masyarakat desa. Dalam hal ini, kelompok saya, termasuk kedalam
kelompok yang aktif, tetapi saya yang pasif (karena program KKN saya tidak
berjalan sebagaimana mestinya).
Saat menyelesaikan program KKN, setiap kelompok
diharuskan untuk menghadapi ujian lisan, yang dilakukan oleh dosen yang menjadi
penilai KKN. Pada saat saya bersama dengan teman satu kelompok mendapatkan
kesempatan untuk melakukan ujian, saya sempat merasa cemas dan takut jika
laporan saya nanti akan dibantai oleh dosen penguji tugas KKN. 7 rangkap
makalah KKN saya yang tebalnya seperti skripsi tidak saya selesaikan dengan
begitu baik, karena kekurangan dokumentasi/foto saat kegiatan berlangsung.
Tetapi, untungnya, saat tiba giliran saya menjelaskan program KKN saya, dosen
penguji saya waktu itu, Pak L**** tidak banyak bertanya, bahkan beliau hanya
bertanya nama programnya saja. Rasa cemas dan takut saya, seketika hilang
setelah ujian pendadaran tersebut. Dan nilai A pun saya dapatkan untuk mata
kuliah KKN, hal ini menjadi penambah semangat saya untuk lebih cepat
menyelesaikan perkuliahan.
Setelah menyelesaikan semester 1 hingga ke semester 7, saya mendapatkan IPK
yang lumayan bagus meskipun tidak sempurna (hanya 3.38). Sebenarnya saya tidak
merasa akan menyelesaikan semester tersebut saya secepat itu, karena sebelumnya
saya tertinggal beberapa mata kuliah, dan dengan perasaan yang sangat
bersyukur, saya akhirnya berhasil menyelesaikan mata kuliah yang tertinggal
serta melengkapi syarat yang ditentukan untuk mengambil mata kuliah skripsi,
yang menjadi momok bagi kebanyakan mahasiswa saat ini (saya tidak perlu untuk
melakukan pencarian lebih lanjut untuk hal ini).
Di poin ini, saya berada di akhir
semester 7, dan bersiap untuk memulai mata kuliah skripsi. Dengan yakinnya,
saya memilih dosen pembimbing yang sangat saya sukai sikap, cara penilaian
serta wibawanya dimata teman mahasiswa lain, yakni Ibu D**** A*****
(sebenarnya, saya memilih beliau, karena setiap mata kuliah yang saya ambil
dengan beliau sebagai dosen selalu diakhiri dengan nilai A ditiap lembar
semesternya #thuglife). Dititik inilah, semangat saya untuk menyelesaikan
proses perkuliahan kembali jatuh, bahkan hingga ketingkat yang paling rendah.
Kejadiannya berawal dari hal yang paling dasar, yakni pemilihan topik skripsi,
judul skripsi saya adalah “Upaya Pengurangan Risiko Tindak Kekerasan Seksual di
Lingkungan Sekolah” dengan studi kasus di Sekolah Menengah Atas (Negeri dan
Swasta) yang ada di Kota Bengkulu. Dengan menggunakan teknik sampling SRS atau “Simple
Random Sampling”, membuat saya tidak harus mendatangi seluruh sekolah menengah
atas di kota Bengkulu.
Topik skripsi yang saya ambil membuat saya harus mencari
data tentang sekolah menengah atas yang mengalami tindak kekerasan seksual di
lingkungan sekolah. Hal ini adalah salah satu hal yang menjadi akar
permasalahan keterlambatan saya menyelesaikan kuliah, karena tidak ada satu
sekolah pun yang saya datangi saat itu mengakui ada tindak kekerasan seksual di
lingkungan sekolah mereka. Akhirnya semangat saya mulai melemah, karena
kehabisan akal untuk mengatasi permasalahan tersebut. Parahnya lagi, saya baru
mengutarakan niat saya untuk mengganti topik setelah ‘progress’ skripsi saya
telah mencapai 40% yakni setelah saya seminar proposal, yang telah memakan
waktu sekitar 3-4 bulan hanya untuk pengantar awal. Dosen pembimbing saya, yang
pada awalnya bersikap sangat baik dimata saya, berubah menjadi orang yang
sangat cuek dan seperti selalu marah saat saya bimbingan dengan beliau. Memang
bukan tanpa alasan beliau bersikap seperti itu, setelah semangat saya untuk
menyelesaikan skripsi melemah, saya jadi malas untuk mengerjakan skripsi. Bahkan,
saya tidak melakukan bimbingan hingga 2 bulan lamanya dengan dosen pembimbing.
Revisi dan saran yang sangat profesional selalu saya terima dari beliau setiap kegiatan
bimbingan skripsi tersebut. Saya tidak membenci dosen tersebut, jika terlihat
seperti itu, saya hanya sedikit kesal dengan sikapnya saja, yang tentu saja
akibat ulah saya sendiri. Saya justru menyadari setelah selesai kegiatan wisuda,
bahwa ternyata saya sangat merindukan nasihat dan saran dari beliau yang selalu
menjadi keseharian saya saat menjalani kegiatan skripsi.
Bimbingan demi
bimbingan pun terus saya lalui, hingga tak terasa sudah mencapai 12 bulan atau
yang telah berlalu satu semester lebih ditambah beberapa bulan. Yang artinya,
saya telah melewatkan untuk selelai kuliah tepat waktu satu semester lebih.
Setelah terus bimbingan dengan skripsi yang semakin tak jelas arahnya, saya
akhirnya mendapat semangat dan motivasi dari beberapa orang yang sangat
berharga di kehidupan saya (yang tidak bisa saya sebutkan, dan yang pasti bukan
wanita terkasih, karena kejombloan selalu menemani dari semester 3
hingga saat ini #BelumLakuLaku). Saya akhirnya berhasil menyelesaikan
skripsi tersebut dengan nilai yang sempurna yakni A, meskipun memakan kurang
lebih 3 semester (satu setengah tahun) lamanya. Yudisium dan wisuda pun
akhirnya berhasil saya lalui dengan sangat sabar, meskipun ada isu yang sempat
membuat was-was karena kuota untuk pendaftaran wisuda mahasiswa telah habis dan
harus menunggu untuk periode selanjutnya, yang artinya harus menunggu 3-4 bulan
lagi. Tetapi akhirnya, saya tetap wisuda di Agustus 2016 (5 tahun 1 bulan kuliah),
yang merupakan waktu pencapaian terbaik saya (terburuk bagi sebagian orang). Memang penyesalan selalu terlambat, tanpa pernah mengirim izin satu kalipun, setelah wisuda, saya baru menyadari kebodohan saya. Ternyata saat saya sedang patah semangat dan timbul kembali rasa malas berkepanjangan, sebenarnya saya telah mencapai 98% pengerjaan skripsi. Saya hanya tinggal menyusun dan mengurut dengan lebih rinci bab per bab skripsi karena dosen pembimbing hanya merevisi untuk kesalahan meletakkan poin paragraf inti pada bab pembahasan. Saya menyadari, bahwa rasa malas tersebutlah yang membuat kabut pekat dalam menghadapi skripsi, bahkan mungkin jika saya tekun dan terus rajin, saya bisa lulus dengan tepat waktu. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, dan sekalian saya tambahkan irisan daging ayam goreng. Hanya bisa mengenang kebodohan terdahulu, dan selalu berdo'a semoga dikesempatan yang akan datang, saya tidak akan mendekati rasa malas.
Apa yang saya tuliskan diatas masih seputar ruang lingkup
keseharian saya di lingkungan kampus, di luar, saya merupakan bagian dari warga
sipil yang ngekos di Gang Juw*ta, Kandang Limun, Bengkulu (Sebenarnya itu bukan tempat kosan pertama saya, tetapi saya tidak akan menyebutkan tempat kosan pertama saya, karena saya masih jengkel, saya kehilangan dua handphone saat masih kos disitu, *saya hanya pernah dua kali kos semenjak tinggal di kota Bengkulu). Tempat kos saya
tidak begitu jauh dengan Unib, bahkan bisa dikatakan sangat dekat, karena pintu
masuk gang tersebut berseberangan langsung dengan gapura gerbang Universitas
Bengkulu, bagian belakang (masyarakat sekitar, termasuk mahasiswa, sepakat
untuk menyebutkan Unib Belakang). Jarak dari kosan ke kampus hanya sekitar
600m. Jadi untuk transportasi dari kosan ke kampus saya menggunakan motor matic
(merk tidak disebut disini, apalagi itu Mio Sp*rty jadul). Hal
tersebut tentu tidak mempersulit kegiatan perkuliahan saya, bahkan hal tersebut
membuat saya tidak punya alasan untuk tidak menghadiri perkuliahan. Hal yang paling saya benci sekaligus saya rindukan sebagai anak kosan, hanya satu hal yakni saat tiba bulan ramadhan. Entah kenapa, setiap bulan ramadhan yang saya lalui jauh dari rumah, saya selalu merasa ada yang kurang. Tetapi, meskipun demikian, setiap hari raya idul fitri, saya selalu merayakannya di rumah. Hanya hari raya idul adha yang pernah saya rayakan di kota Bengkulu.
Inti dari tulisan saya yang mungkin tidak ada gunanya ini, adalah
jangan pernah biarkan rasa malas menguasai diri, karena bila rasa malas sudah
mengakar didalam diri, akan butuh waktu yang lama untuk menghilangkannya. Saya sangat merasakan akibat dari malas yang ada di diri saya saat kuliah, membuat saya kehilangan banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik. Saya
tidak akan menyebutkan hasil perkuliahan saya dari segi jurusan perkuliahan
yang saya ambil, karena saya rasa itu tidak diperlukan disini. Selain itu, jika
kamu adalah orang yang baru lulus SMA/SMK atau yang sederajat, jangan ragu
untuk mengambil kuliah sebagai jalan untuk menggapai masa depan yang lebih baik.
Karena sekecil apapun manfaat positif yang didapat dari perkuliahan, akan
berguna untuk menentukan cara kita bersikap, berinteraksi dengan orang banyak,
dan yang paling penting, kuliah membuat kita mengetahui jalan hidup yang harus
dihadapi. Tentunya, saya tidak ingin terlihat seperti sok tahu dan sok
menasihati, tetapi percayalah, jika serius dan rajin saat kuliah akan membuatmu
menjadi pribadi yang semakin hari semakin baik. Dan jika kamu tidak merasa
memerlukan kuliah, mulailah bekerja atau ikut pelatihan kerja, jangan biarkan
rasa malas membuatmu menunda untuk bekerja (saya tidak yakin menjauhi rasa malas merupakan inti dari topik ini, tetapi biarlah, toh, jari ini cuman menuruti apa yang muncul dari pikiran saya saja)


